2. Agama
& Masyarakat
a.
Perkembangan Agama di Indonesia
1. ISLAM
Etika
Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti
animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa
Indonesia bahkan dibeberapa wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri
kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Misalnya kerajaan
Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat,
kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya. Namun Islam datang ke
wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam
datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara
manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling
penting juga adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan
membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada paksaan.
Tentang
kapan Islam datang masuk ke Indonesia, menurut kesimpulan seminar “
masuknya Islam di Indonesia” pada tanggal 17 s.d 20 Maret 1963 di
Medan, Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah atau pada
abad ke tujuh masehi. Menurut sumber lain menyebutkan bahwa Islam
sudah mulai ekspedisinya ke Nusantara pada masa Khulafaur Rasyidin
(masa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin
Affan dan Ali bin Abi Thalib), disebarkan langsung dari Madinah.
B.
Cara Masuknya Islam di Indonesia
Islam masuk ke
Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam
berkembang dan tersebar di Indonesia justru dengan cara damai dan
persuasif berkat kegigihan para ulama. Karena memang para ulama
berpegang teguh pada prinsip Q.S. al-Baqarah ayat 256 :
Artinya
:
Tidak ada paksaan dalam agama (Q.S. al-Baqarah ayat
256)
Adapun cara masuknya Islam di Indonesia melalui beberapa
cara antara lain ;
1. Perdagangan
Jalur ini dimungkinkan
karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang dengan
orang Arab. Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti
kerajaan Islam Malaka dan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin
ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke Nusantara
(Indonesia). Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari
keuntungan rohani yaitu dengan menyiarkan Islam. Artinya mereka
berdagang sambil menyiarkan agama Islam.
2. Kultural
Artinya
penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media
kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau
jawa. Misalnya Sunan Kali Jaga dengan pengembangan kesenian wayang.
Ia mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang yang bertema Hindu
dengan ajaran Islam. Sunan Muria dengan pengembangan gamelannya.
Kedua kesenian tersebut masih digunakan dan digemari masyarakat
Indonesia khususnya jawa sampai sekarang. Sedang Sunan Giri
menciptakan banyak sekali mainan anak-anak, seperti jalungan,
jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.
3.
Pendidikan
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan
yang paling strategis dalam pengembangan Islam di Indonesia. Para
da’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh pelosok
Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut. Datuk Ribandang yang
mengislamkan kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran
pesantren Sunan Giri. Santri-santri Sunan Giri menyebar ke
pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga
ke Nusa Tenggara. Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat
strategis dalam memerankan kendali penyebaran Islam di seluruh
Indonesia.
4. Kekuasaan politik
Artinya penyebaran Islam di
Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para Sultan.
Di pulau Jawa, misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan
menjadi pelindung perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya
di seluruh Nusantara. Raja Gowa-Tallo di Sulawesi selatan melakukan
hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Demak di Jawa. Dan para
Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu membahu dan
tolong menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara. Keadaan
ini menjadi cikal bakal tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa
mendatang.
2. KRISTEN
Sejarah
Agama Kristen di Indonesia
Perkembangan Agama Kristen di
Indonesia dapat dibagi menjadi 3 zona waktu.
1. Sebelum
kolonialisme Belanda
2. Saat kolonialisme Belanda
3. Setelah
kolonialisme Belanda
Sebelum Kolonialisme Belanda
Agama
Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama
abad ke-7 di Sumatera Utara. Kota Barus yang dahulu disebut Pancur
dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara
adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia
Saat
Kolonialisme Belanda
Kristen Katolik tiba di Indonesia saat
kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang
berdagang rempah-rempah, Katolik Roma pertama tiba pada tahun 1534,
di kepulauan Maluku melalui orang Portugis yang dikirim untuk
eksplorasi. Fransiskus Xaverius, misionaris Katolik Roma dan pendiri
Ordo Yesuit bekerja di kepulauan Maluku pada tahun 1546 sampai tahun
1547. Namun ketika Belanda mengalahkan Portugis tahun 1605, Belanda
mengusir misionari-misionari Katolik dan memperkenalkan Kristen
Protestan (dari aliran Calvinist Dutch Reformed Church), sehingga
terpengaruh pada ajaran Calvinisme dan Lutheran.
Perkembangan
Kekristenan di Indonesia pada jaman itu cukup lambat. Hal ini
dikarenakan ajaran Calvinist merupakan aliran agama Kristen yang
memerlukan pendalaman Alkitab yang mendalam, sementara edisi Alkitab
saat itu belum ada yang berbahasa Indonesia (bahasa Belanda).
Lagipula, VOC sebagai kendaraan Belanda untuk masuk dan menguasai
Indonesia saat itu adalah sebuah perusahaan sekuler dan bukan
perusahaan yang cukup religius, sehingga tidak mendukung penyebaran
agama yang dilakukan oleh misionaris Belanda sendiri. Setelah
pengaruh VOC mulai tenggelam pada tahun 1799, pemerintah Belanda
mulai memperbolehkan penyebaran agama dengan lebih leluasa. Orang
Kristen aliran Lutheran dari Jerman yang lebih toleran dan tidak
memaksa pemeluknya untuk mempelajari agama Kristen dengan sedemikian
dalam, mulai memanfaatkan perijinan tersebut untuk mulai menyebarkan
agama di antara orang Batak di Sumatera pada tahun 1861, dan
misionari Kristen Belanda dari aliran Rhenish juga menyebarkan agama
di Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah
Setelah Kolonialisme
Belanda
Pada abad ke 20 setelah Belanda pergi dari Indonesia,
agama Kristen dan Katolik mulai berkembang pesat. Hal ini dimulai
oleh sebuah keadaan pada tahun 1965, ketika terjadi peralihan
kekuasaan Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto. Saat itu,
Komunisme (dan Atheisme) merupakan hal yang dilarang oleh pemerintah.
Semua orang-orang yang tidak beragama, langsung dicap Atheis, dan
dengan demikian sangat mudah untuk dituduh sebagai pengikut Komunis.
Saat itu, gereja dari berbagai aliran mengalami pertumbuhan jemaat
yang pesat, terutama dari orang-orang (sebagian besar beretnis
Tionghoa yang berasal dari Cina, yang merupakan negara Komunis) yang
merasa tidak nyaman dengan kebijakan pemerintah mengenai Komunisme
dan Atheisme pada saat itu.
Pada akhir abad ke 20 sampai awal
abad 21, banyak misionaris dari Amerika yang menyebarkan aliran
Evangelican dan Pentecostal. Aliran yang sering disebut "Karismatik"
ini merupakan aliran yang dianggap "modern" karena
menggabungkan antara Kristen tradisional, dengan pola pikir modern
pada jaman ini
3. KHATOLIK
Ada dugaan bahwa agama Kristen sudah sampai ke Indonesia
lebih seribu tahun lalu. Tetapi data sejarah yang ada mengungkapkan
bahwa agama Kristen masuk ke Indonesia bersamaan dengan datangnya
bangsa barat pada Abad XVI. Kemudia orang Indonesia mulai masuk
Kristen kali pertama di Maluku, oleh pekerjaan imam Gereja Roma
Katolikyang datang bersama pedagang Portugis. Pada masa itu terjadi
persaingan antar kekuatan politik,dengan bangsa belanda yang
notabennya Kristen Protestan. Persaingan itu akhirnya dimenagkan oleh
Belanda dengan perusahaan dagang VOC. Pihak portugis terusir
meninggalkan jemaat-jemaat Roma Katolik yang kemudian
besarnya diprotestankan. Setelah peristiwa ini, kemudian Gereja
Protestanlah yang lebih pesat perkembangannya di Indonesia.
Pada
abad XVIII VOC bangkrut dan membubarkan diri yang diakibatkan karena
korupsi pegawainya. Kemudian pemerintah kolonial menangani secara
langsung kehidupan umat Kristen dengan membentuk suatu gereja
Protestan pemerintah-Inische Kerrk- tepatnya
pada tahun 1835. Dari Inische
Kerrkinilah lahir Gereja-gereja Etnis yang
besar di Indonesia bagian Timur, yaitu Gereja Masehi Injili Minahasa,
gereja Protestan Maluku, dan Gereja Masehi Injili di Timor.
Jemaat-jemaat lainya tergabung dalam satu sinode tersendiri, yaitu
Gereja protestan di Indonesia bagian Barat.
Meskipun demikian, ternyata perlahan tapi pasti gereja
katolikpun masih ikut berkembang dan masih eksis sampai sekarang. Hal
ini dibuktikan dengan jumlah gereja katolik yangterdapat di 33 (34)
wilayah di Indonesia. Dengan lebih kurang
lima juta anggota Gereja.
4. HINDU
Masuknya
agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat
diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala
pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa
peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa
itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu
yang menyatakan bahwa: “Yupa itu didirikan untuk memperingati dan
melaksanakan yadnya oleh Mulawarman”. Keterangan yang lain
menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat
suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan
“Vaprakeswara”.
Masuknya
agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar,
misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari
religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha
Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur
kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama
Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan
diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun,
Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua
prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.
Dari
prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa
“Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau
adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan
dengan tapak kaki Dewa Wisnu”
Bukti
lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya
yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa
Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja
Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti
sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama
Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti
Tukmas di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta
memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti
Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti,
yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar,
diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi.
Pernyataan
lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa
sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan
oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra
Sengkala berbunyi: “Sruti indriya rasa”, Isinya memuat tentang
pemujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri
Murti.
Adanya
kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng
dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi
dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan
bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping
itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan
dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang
berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat
tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha
pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para
Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah
salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan
suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua
kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Kemudian
pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan
bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat
dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti
Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang
memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah
penganut Hindu yang setia.
Setelah
dinasti Isana Wamsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun
1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini
banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab
Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana.
Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman
kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi
Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan
Singosari.
Pada
akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan
Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara.
Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan
perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya
candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur
disamping juga munculnya buku Negarakertagama.
Selanjutnya
agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Hindu di Bali
diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat dibuktikan
dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra
Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca
Siwa di Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8.
Menurut
uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu
agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2, yakni
pada masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup
besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat
disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad,
sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama
Dewa. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di
Pura Khayangan Tiga. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau
dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura
Silayukti.
Perkembangan
agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali
(tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam
teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa Dalem Waturenggong,
kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya
Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau
sangat besar dibidang sastra, agama, arsitektur. Demikian pula
dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget
dan Dalem Gandamayu (Klungkung).
Perkembangan
selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan
kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun
1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di
Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta
tahun1925 di SIngaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu
Bali tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di
Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra
Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959
terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23
Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma
Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam
Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu.
Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu
Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali
dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu
Bali, yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia.
5. BUDHA
Agama
Buddha bagi bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah agama
baru.
Ratusan Tahun yang silam agama ini pernah menjadi pandangan
hidup
dan kepribadian bangsa Indonesia tepatnya pada zaman
kerajaan
Sriwijaya, kerajaan Maratam Purba dan keprabuan
Majapahit.
Candi Borobudur, salah satu warisan kebudayaan
bangsa yang amat kita
banggakan tidak lain cerminan dari
kejayaan agama Buddha di zaman
lampau.
Sekitar tahun 423
M Bhiksu Gunawarman datang ke negri Cho-
Po (jawa) untuk
menyebarluaskan ajaran Buddha. Ternyata ia
memperoleh
perlindungan dari penguasa setempat, sehingga misinya
menyebar
luaskan ajaran Buddha berjalan lancar. semua ini tercatat
di
dalambuku Gunawarman dan jika di dasarkan pada buku ini
maka
kemungkinan besar ia adalah seorang perintid
pengembangan agama
Buddha di Indonesia pada zaman tersebut.
Agama
Buddha Dalam Zaman Penjajahan
Pada zaman penjajahan Belanda,
di Indonesia hanya dikenal
adanya tiga agama yakni agama
Kristen Protestan, Katolik dan Islam
sedangkan agama Buddha
tidak disebut-sebut. Hal ini adalah salah
satu sikap
Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu. Dengan demikian
agama
Buddha dapat dikatakan sudah sima di bumi Indonesia, tetapi
secara
tersirat di dalam hati nurani bangsa Indonesia, agama Buddha
masih
tetap terasa antara ada dan tiada.
Pada
zaman pemerintahan kolonial Belanda di Jakarta didirikan Perhimpunan
Theosofi oleh orang-orang Belanda terpelajar.
Tujuan dari
Theosofi ini mempelajari inti kebjaksanaan semua agama
dan
untuk menciptakan inti persaudaraan yang universal.
Theosofi
mengajarkan pula kebijaksanaan dari agama Buddha,
di mana seluruh
anggota Thesofi tanpa memandang perbedaan
agama, juga mempelajari
agama Buddha. Dari ceramah-ceramah
dan meditasi agama Buddha yang
diberikan di Loji Theosofi di
Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta,
Surabaya dan
sebagainya, agama Buddha mulai dikenal, dipelajari dan
dihayati.
Dari sini lahirlah penganut agama Buddha di Indonesia,
yang
setelah Indonesia merdeka mereka menjadi pelopor kebangkitan
kembali
agama Buddha di Indonesia.
Perkembangan
Agama Buddha Sejak Kemerdekaan R.I.
Perhimpunan Theosofi y.ang
bertujuan untuk membina persaudaraan
universal melalui
penghayatan pengetahuan tentang semua agama
termasuk agama
Buddha, telah menarik perhatian dan minat orang-orang
Indonesia
terpelajar. Dari mempelajari agama Buddha kemudian
timbullah
dorongan untuk menghayati dan mengamalkan ajaran agama
Buddha.
Dari sinilah bermulanya orang-orang Indonesia terpelajar
mengenal
agama Buddha sampai akhirnya menjadi penganut Buddha
Dharma.
Orang-orang Indonesia terpelajar yang kemudian menjadi umat
Buddha
melalui Theosofi antara lain M.S. Mangunkawatja, Ida Bagus
Jelanti,
The Boan An, Drs. Khoe Soe Khiam, Sadono, R.A. Parwati,
Ananda
Suyono, I Ketut Tangkas, Slamet Pudjono, Satyadharma, lbu
Jamhir,
Ny. Tjoa Hm Hoey, Oka Diputhera dan lain-lainnya. Meskipun
theosofi
tidak bertujuan untuk membangkitkan kembali agama Buddha
narnun
dari theosofi ini lahir penganut agama Buddha yang kemudian
setelah
Indonesia merdeka menjadi pelopor kebangkitan kembali agama
Buddha
di Indonesia. Karena itu baik Perhimpunan Theosofi Indonesia
maupun
Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia secara tidak
langsung
mempunyai andil yang besar dalam kebangkitan
kembali agama Buddha di
Indonesia.
6. KONGHUCU
Majelis
Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (disingkat MATAKIN) adalah
sebuah organisasi yang mengatur perkembangan
agama Khonghucu diIndonesia. Organisasi ini didirikan pada
tahun 1955.
Keberadaan
umat beragama Khonghucu beserta lembaga-lembaga
keagamaannya di Nusantara atau Indonesia ini sudah ada sejak
berabad-abad yang lalu, bersamaan dengan kedatangan perantau atau
pedagang-pedagang Tionghoa ke tanah air kita ini. Mengingat
sejak zaman Sam Kokyang berlangsung sekitar abad ke-3 Masehi,
Agama Khonghucu telah menjadi salah satu di antara Tiga Agama Besar
di China waktu itu; lebih-lebih sejak zaman dinasti Han, atau
tepatnya tahun 136 sebelum Masehi telah dijadikan Agama Negara .
Toleransi
Beragama
Toleransi adalah
istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang
berarti sikap dan perbuatan yang melarang
adanya diskriminasi terhadap
kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh
mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi
beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat
mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya Istilah
toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi "kelompok"
yang lebih luas, misalnya partai
politik, orientasi
seksual,
dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik
mengenai prinsip-prinsip toleransi, baik dari
kaum liberal maupun konservatif.
Sifat
kita terhadap Toleransi
adalah
untuk menghargai sesama pemeluk agama dan menghargai perbedaan
tersebut, juga memberikan kebebasan kepada pemeluk agama lain untuk
melakukan upacara keagamaan mereka